Bahan dan produk karet harus mematuhi standar kualitas yang ketat, meliputi kekuatan tarik, modulus elastisitas, perpanjangan, dan ketahanan terhadap penuaan. Parameter ini sangat penting untuk produk karet yang digunakan dalam aplikasi presisi tinggi.
Wewenang: Komite Produk Karet
Pada masa awal pengembangan karet di Tiongkok, Komite Produk Karet didirikan. Ini berfungsi sebagai badan penting yang bertanggung jawab atas penelitian dan pengembangan karet, studi akademis, dan pengawasan kualitas.
1. Uji Pembengkakan Pelarut (Ketahanan Media)
Tujuan dan Prosedur
Pengujian ini mengidentifikasi jenis karet dengan mengukur berat dan perubahan kekerasan setelah direndam dalam suatu pelarut.
Metode
Sampel diambil dari produk jadi dan direndam dalam media tertentu (atau kombinasi media) pada suhu tertentu selama jangka waktu tertentu. Setelah itu sampel ditimbang dan dilakukan pengujian durometer. Jenis material kemudian disimpulkan berdasarkan perubahan berat dan kekerasan.
Contoh: Perendaman dalam oli motor bersuhu 100°C selama 24 jam.
Perubahan Minimal: NBR (Nitrile Butadiene Rubber), FKM (Fluorocarbon Rubber), dan CR (Chloroprene Rubber) menunjukkan perubahan minimal dalam massa dan kekerasan.
Perubahan Signifikan: NR (Karet Alam), EPDM (Ethylene Propylene Diene Monomer Rubber), dan SBR (Styrene-Butadiene Rubber) menunjukkan peningkatan massa lebih dari 100%, perubahan kekerasan yang signifikan, dan ekspansi volume yang besar.
Setelah pengujian media, kami dapat menguji pengujian usia termal untuk mengetahui bahan apa saja yang ada di dalam produk.
2. Uji Penuaan Udara Panas
Analisis Degradasi yang Dipercepat
Pengujian ini memproyeksikan perilaku material jangka panjang melalui oksidasi termal yang terkendali.
Metode
Sampel dari produk jadi disimpan dalam ruang penuaan untuk jangka waktu tertentu pada suhu tinggi. Pasca penuaan, sampel dievaluasi untuk mengetahui adanya perubahan. Pengujian dapat dilakukan secara bertahap, dengan menaikkan suhu secara bertahap.
Contoh:
150°C: CR (Chloroprene Rubber), NR (Natural Rubber), dan SBR (Styrene-Butadiene Rubber) menjadi rapuh. NBR (Nitrile Butadiene Rubber) dan EPDM (Ethylene Propylene Diene Monomer Rubber) mempertahankan elastisitasnya.
180°C: NBR standar menjadi rapuh.
230°C: HNBR (Hydrogenated Nitrile Butadiene Rubber) menjadi rapuh, sedangkan FKM (Fluorocarbon Rubber) dan karet silikon tetap elastis.
Membandingkan perubahan bahan dengan panas, sifat mudah terbakar membantu menentukan kelas polimer.
3. Metode Pembakaran
Analisis Kualitatif melalui Pembakaran
Mengamati karakteristik pembakaran memberikan petunjuk tentang komposisi karet.
Metode
Sebuah sampel kecil dibakar di udara terbuka, dan perilakunya diamati dengan cermat.
Pengamatan:
Bahan yang Dapat Memadamkan Sendiri: FKM (Fluorocarbon Rubber) dan CR (Chloroprene Rubber) cenderung dapat padam dengan sendirinya setelah sumber api dihilangkan. Jika terbakar, nyala api biasanya lebih kecil dibandingkan NR (Karet Alam) atau EPDM (Karet Ethylene Propylene Diene Monomer).
Pemeriksaan Mendetail: Pengamatan yang cermat terhadap kondisi pembakaran, warna nyala api, dan bau dapat menyempurnakan analisis lebih lanjut. Misalnya, campuran NBR/PVC mungkin menunjukkan percikan api (seolah-olah ada air), padam sendiri setelah sumber penyulut dihilangkan, dan menghasilkan asap tebal dengan bau asam.
Catatan: Bahan penghambat api bebas halogen juga dapat menyebabkan perilaku pemadaman sendiri. Tes tambahan mungkin diperlukan untuk identifikasi pasti.
Setelah tingkat mudah terbakar ditetapkan, mari kita tentukan kepadatan karet dengan pengujian kepadatan.
4. Pengukuran Kepadatan
Menentukan Kelas Material Melalui Massa Jenis
Tes ini adalah cara yang dapat diandalkan untuk mengklasifikasikan bahan berdasarkan beratnya.
Metode
Timbangan elektronik atau timbangan analitik dengan ketelitian 0,01 gram digunakan. Gelas kimia berisi air dan benang halus seperti rambut juga diperlukan.
Panduan:
Kepadatan Tinggi: FKM (Karet Fluorokarbon) biasanya memiliki kepadatan tertinggi, melebihi 1,8. CR (Chloroprene Rubber) seringkali memiliki kepadatan di atas 1,3. Bahan dengan kepadatan tinggi dapat sangat mendukung kelas bahan tersebut jika polimer ini.
Kita juga dapat mengetahui banyak hal dari suhu transisi kaca. Mari kita bahas penentuan transisi kaca dengan memaparkan karet pada suhu dingin.
5. Uji Suhu Rendah
Memahami Transisi Kaca
Tes ini dapat mendeteksi transisi kaca suatu material, dan material apa saja yang dikandungnya.
Metode
Sampel direndam dalam lingkungan bersuhu rendah yang sesuai yang dibuat menggunakan es kering dan alkohol. Setelah direndam selama 2-5 menit, kekerasan dan kelenturan sampel dinilai pada suhu yang dipilih.
Contoh:
-40°C: Dibandingkan dengan karet silikon dan FKM (Karet Fluorokarbon), karet silikon tetap relatif lunak, dan keduanya memiliki ketahanan yang baik terhadap suhu tinggi dan minyak. Sifat suhu rendah dapat semakin memperjelas sifat polimer.
Dengan properti material, penting untuk menentukan propertinya. Berikut rangkuman pengertian karet dengan alat penguji kekerasan dan suhu rendah dan tinggi.
Kesimpulan: Analisis Material Produk Karet Secara Komprehensif
Kontrol Kualitas sangat Penting
Setiap analisis berguna untuk mendapatkan wawasan tentang material karet. Pengetahuan ini menegaskan bahwa desain produk tetap dipertahankan.
Semua pengujian sangat penting untuk desain kabel listrik yang tepat. Kualitas yang aman dan dapat diandalkan dapat diukur melalui pengujian kualitas.
Kami mengkhususkan diri dalam memproduksi produk karet dan busa termasuk ekstrusi, cetakan injeksi, cetakan pengawetan, pemotongan busa, pelubangan, laminasi dll.
Kami menggunakan cookie untuk mengaktifkan semua fungsi untuk kinerja terbaik selama kunjungan Anda dan untuk meningkatkan layanan kami dengan memberi kami beberapa wawasan tentang bagaimana situs web digunakan. Terus menggunakan situs web kami tanpa mengubah pengaturan browser Anda mengonfirmasi penerimaan Anda terhadap cookie ini. Untuk detailnya silakan lihat kebijakan privasi kami.